Candida albicans secara
alami sebenarnya
terdapat pada
membrane mukosa
dalam tubuh kita, paling
banyak terdapat dalam
saluran pencernaan.
Selain itu, Candida juga
ditemukan dalam vagina
yang sehat, mulut, dan
rektum. Jika
pertumbuhannya terlalu
pesat, Candida dapat
menginfeksi vagina,
sehingga terjadi
peradangan, yang
disebut candidiasis.
Candidiasis bisa
menyerang wanita di
segala usia, terutama
usia pubertas.
Keparahannya berbeda
antara satu wanita
dengan wanita lain dan
dari waktu ke waktu
meski pada wanita yang
sama. Gejalanya, bibir
vagina dan kulit di
sekitarnya membengkak,
menjadi kemerahan,
nyeri, dan gatal. Vagina
terasa panas setiap kali
buang air kecil.
Candidiasis adalah
penyakit jamur, yang
bersifat akut atau
subakut disebabkan oleh
spesies Candida,
biasanya oleh spesies
Candida albicans dan
dapat mengenai mulut,
vagina, kulit, kuku,
bronki, atau paru,
kadang-kadang dapat
menyebabkan
septikemia, endokarditis,
atau meningitis.
Nama lain dari
Candidiasis adalah
kandidosis,
dermatocandidiasis,
bronchomycosis, mycotic
vulvovaginitis, muguet,
dan moniliasis. Istilah
candidiasis banyak
digunakan di Amerika,
sedangkan di Kanada,
dan negara-negara di
Eropa seperti Itali,
Perancis, dan Inggris
menggunakan istilah
kandidosis, konsisten
dengan akhiran –osis
seperti pada
histoplasmosis dan lain –
lain.
Gejala khas candidiasis
yang paling dikenal oleh
umum adalah keluarnya
cairan vagina berwarna
putih menyerupai keju
cottage. Mungkin karena
inilah candidiasis popular
dengan sebutan
‘keputihan’. Cairan putih
keju tersebut berbau
tidak sedap, tetapi tidak
busuk. Ketika Candida
tumbuh semakin pesat,
sel-selnya mengalami
metamorfosis. Sebagai
khamir alias ragi yang
semula selnya berbentuk
bulat, berubah menjadi
kapang yang berfilamen,
memiliki sulur-sulur akar.
Akar ini akan
berkembang semakin
panjang dan menembus
sel mukosa usus. Setelah
mencapai sistem
sirkulasi, Candida akan
melepaskan zat racun.
Bersama protein yang
tidak tercerna, zat racun
ini akan merasuki
seluruh jaringan tubuh
dan mengakibatkan
kemerosotan sistem
kekebalan tubuh.
Akibatnya, muncul reaksi
alergi, kelelahan, dan
masalah kesehatan
lainnya. Istilah lain
gangguan kesehatan
yang diakibatkan oleh
‘jamur’ Candida ini
adalah sindroma Candida
kronis (Candida-Related
Complex, CRC).
EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini terdapat di
seluruh dunia, dapat
menyerang semua umur
terutama bayi dan orang
tua, baik laki – laki
maupun perempuan.
Jamur penyebabnya
terdapat pada orang
sehat sebagai saprofit.
Gambaran klinisnya
bermacam – macam
sehingga tidak diketahui
data – data
penyebarannya dengan
tepat.
ETIOLOGI
Yang tersering sebagai
penyebab ialah Candida
albicans yang dapat
diisolasi dari kulit, mulut,
selaput mukosa vagina,
dan feses orang normal.
Sebagai penyebab
endokarditis kandidosis
ialah Candida
parapsilosis dan
penyebab kandidosis
septikemia adalah
Candida tropicalis.
Genus Candida
merupakan sel ragi
uniseluler yang termasuk
ke dalam Fungi
imperfecti atau
Deuteromycota, kelas
Blastomycetes yang
memperbanyak diri
dengan cara bertunas,
famili Cryptococcaceae.
Genus ini terdiri lebih
dari 80 spesies, yang
paling patogen adalah C.
albicans diikuti
berturutan dengan C.
stellatoidea, C.
tropicalis, C. parapsilosis,
C. kefyr, C. guillermondii
dan C. krusei.
PATOGENESIS
Infeksi kandida dapat
terjadi, apabila ada
faktor predisposisi baik
endogen maupun
eksogen. Faktor endogen
meliputi perubahan
fisiologik, umur,dan
imunologik.
Perubahan fisiologik
seperti kehamilan
(karena perubahan pH
dalam vagina);
kegemukan (karena
banyak keringat);
debilitas; latrogenik;
endokrinopati (gangguan
gula darah kulit);
penyakit kronik seperti:
tuberkulosis, lupus
eritematosus dengan
keadaan umum yang
buruk.
Umur contohnya: orang
tua dan bayi lebih mudah
terkena infeksi karena
status imunologiknya
tidak sempurna.
Imunologik contohnya
penyakit genetik.
Faktor eksogen meliputi:
iklim, panas, dan
kelembaban
menyebabkan respirasi
meningkat, kebersihan
kulit, kebiasaan
berendam kaki dalam air
yang terlalu lama
menimbulkan maserasi
dan memudahkan
masuknya jamur, dan
kontak dengan penderita
misalnya pada thrush,
dan balanopostitis.
GEJALA
Gejalanya bervariasi,
tergantung kepada
bagian tubuh yang
terkena., dapat dibagi
menjadi: infeksi pada
lipatan kulit (infeksi
intertriginosa), infeksi
vagina (vulvovaginitis),
infeksi penis, thrush,
perléche, dan paronikia.
Infeksi pada lipatan kulit
(infeksi intertriginosa)
biasanya menyebabkan
ruam kemerahan, yang
seringkali disertai
adanya bercak-bercak
yang mengeluarkan
sejumlah kecil cairan
berwarna keputihan.
Biasanya timbul bisul-
bisul kecil, terutama di
tepian ruam dan ruam ini
menimbulkan gatal atau
rasa panas. Ruam
Candida di sekitar anus
tampak kasar, berwarna
merah atau putih dan
terasa gatal.
Infeksi vagina
(vulvovaginitis) sering
ditemukan pada wanita
hamil, penderita
diabetes atau pemakai
antibiotik.Gejalanya
berupa keluarnya cairan
putih atau kuning dari
vagina disertai rasa
panas, gatal dan
kemerahan di sepanjang
dinding dan daerah luar
vagina.
Infeksi penis sering
terjadi pada penderita
diabetes atau pria yang
mitra seksualnya
menderita infeksi vagina.
Biasanya infeksi
menyebabkan ruam
merah bersisik (kadang
menimbulkan nyeri) pada
bagian bawah penis.
Thrush merupakan
infeksi jamur di dalam
mulut. Bercak berwarna
putih menempel pada
lidah dan pinggiran
mulut, sering
menimbulkan nyeri.
Bercak ini bisa dilepas
dengan mudah oleh jari
tangan atau sendok.
Thrush pada dewasa bisa
merupakan pertanda
adanya gangguan
kekebalan, kemungkinan
akibat diabetes atau
AIDS. Pemakaian
antibiotik yang
membunuh bakteri
saingan jamur akan
meningkatkan
kemungkinan terjadinya
thrush.
Perléche merupakan
suatu infeksi Candida di
sudut mulut yang
menyebabkan retakan
dan sayatan kecil. Bisa
berasal dari gigi palsu
yang letaknya bergeser
dan menyebabkan
kelembaban di sudut
mulut sehingga tumbuh
jamur.
Paronikia adalah candida
tumbuh pada bantalan
kuku, menyebabkan
pembengkakan dan
pembentukan nanah.
Kuku yang terinfeksi
menjadi putih atau
kuning dan terlepas dari
jari tangan atau jari
kaki.
PEMBANTU DIAGNOSIS
Dapat dibagi menjadi
pemeriksaan langsung
dan pemeriksaan biakan.
Pemeriksaan langsung:
kerokan kulit atau
usapan mukokutan
diperiksa dengan larutan
KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram,
terlihat sel ragi,
blastospora, atau hifa
semu.
Pemeriksaan biakan:
bahan yang akan
diperiksa ditanam dalam
agar dektrosa glukosa
Sabouraud, dapat pula
agar ini dibubuhi
antibiotik
(kloramfenikol) untuk
mencegah pertumbuhan
bakteri. Perbenihan
disimpan dalam suhu
kamar atau lemari suhu
37ºC, koloni tumbuh
setelah 24-48 jam, berupa
yeast like colony.
Identifikasi Candida
albicans dilakukan
dengan membiakkan
tumbuhan tersebut pada
corn meal agar.
DIAGNOSIS BANDING
Dapat dibagi
berdasarkan tempatnya
yaitu kandidiasis kutis
lokalisata, kandidiasis
kuku, dan kandidiasis
vulvovaginitis.
Kandidiasis kutis
lokalisata dengan: 1).
eritrasma: lesi di lipatan,
lesi lebih merah, batas
tegas, kering tidak ada
satelit, pemeriksaan
dengan sinar Wood
positif, 2). dermatitis
intertriginosa, 3).
dermatofitosis (tinea);
Kandidiasis kuku dengan
tinea unguium;
Kandidiasis vulvovaginitis
dengan: 1). trikomonas
vaginalis, 2). gonore
akut, 3). Leukoplakia, 4).
liken planus
PENGOBATAN
Dengan cara
menghindari atau
menghilangkan faktor
predisposisi, topikal, dan
sistemik. Topikal
meliputi:
1). larutan ungu gentian
½-1% untuk selaput
lendir, 1-2% untuk kulit,
dioleskan sehari 2 kali
selama 3 hari
2). nistatin: berupa krim,
salap, emulsi
3). amfoterisin B
4). grup azol antara lain:
Mikonazol 2% berupa
krim atau bedak,
Klotrimazol 1% berupa
bedak, larutan dan krim,
Tiokonazol, bufonazol,
isokonazol,
Siklopiroksolamin 1%
larutan, krim,
Antimikotik yang lain
yang berspektrum luas.
Sistemik meliputi: 1).
Tablet nistatin untuk
menghilangkan infeksi
fokal dalam saluran
cerna, obat ini tidak
diserap oleh usus, 2).
Amfoterisin B diberikan
intravena untuk
kandidiasis sistemik, 3).
Untuk kandidiasis
vaginalis dapat diberikan
kotrimazol 500 mg per
vaginam dosis tunggal,
sistemik dapat diberikan
ketokonazol 2 x 200 mg
selama 5 hari atau
dengan itrakonazol 2 x
200 mg dosis tunggal
atau dengan flukonazol
150 mg dosis tunggal, 4).
Itrakonazol: bila dipakai
untuk kandidiasis
vulvovaginalis dosis
untuk orang dewasa 2 x
100 mg sehari, selama 3
hari.1
Beberapa terapi non-
obat tampaknya
membantu. Terapi
tersebut belum diteliti
dengan hati-hati untuk
membuktikan hasilnya,
seperti: 1). mengurangi
penggunaan gula, 2).
minum teh Pau d’Arco.
Ini dibuat dari kulit
pohon Amerika Selatan,
3). memakai bawang
putih mentah atau
suplemen bawang putih.
Bawang putih diketahui
mempunyai efek anti-
jamur dan antibakteri.
Namun bawang putih
dapat mengganggu obat
protease inhibitor, 4).
kumur dengan minyak
pohon teh (tea tree oil)
dapat dilarutkan dengan
air, 5). memakai kapsul
laktobasilus (asidofilus).
PENCEGAHAN
Tidak ada cara untuk
mencegah terpajan pada
Candida. Obat-obatan
tidak biasa dipakai untuk
mencegah kandidiasis.
Ada beberapa alasan: 1).
Penyakit tersebut tidak
begitu bahaya, 2). Ada
obat-obatan yang efektif
untuk mengobati
penyakit tersebut, 3).
Ragi dapat menjadi kebal
(resistan) terhadap obat-
obatan. Memperkuat
sistem kekebalan tubuh
adalah cara terbaik
untuk mencegah
jangkitan kandidiasis.
Minggu, 13 Februari 2011
Sabtu, 12 Februari 2011
Tentang Jamur Pada Ibu Hamil
saat hamil, infeksi jamur mengintai
saat bunda dalam masa kehamilan metabolisme tubuh meningkat, akibatnya beberapa hal bisa terjadi. seperti keluar lendir dari vagina. jika lendir tersebut tidak berbau dan tidak berwarna serta jumlahnya tidak banyak dan mengganggu maka hal itu masih dianggap normal. namun jika sebaliknya bahkan mengganggu aktifitas bunda perlu memeriksakan diri ke dokter agar tidak terkena infeksi jamur.
beberapa tips untuk mencegah terjadinya infeksi jamur :
1. gunakan pakaian yang mudah menyerap keringat seperti yang berbahan katun, dan segeralah ganti pakaian yang terkena keringat. pada saat hamil bunda akan lebih mudah berkeringat apalagi bila suhu di luar begitu panas. hal ini terjadi karena adanya peningkatan metabolisme tubuh.
2. arah bilas setelah buang air kecil yang baik adalah dari depan kebelakang, hal ini untuk mencegah masuknya bakteri atau jamur yang berasal dari anus.
3. menjaga agar daerah sekitar vagina tetap kering untuk mencegah tumbuhnya jamur. pastikan daerah sekitar vagina bunda benar-benar kering setelah buang air kecil maupun besar sebelum memakai celana dalam kembali.
4. jangan memakai celana yang masih basah agar daerah sekitar vagina tidak lembab.
5. jika keluhan masih muncul, dianjurkan untuk memeriksa kadar gula dalam darah.
Wanita hamil pun kerap mengalami keputihan selama masa kehamilannya.
Menurut Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta, seorang wanita
lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu
dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan
pada kondisi pencernaan. Semua ini berpengaruh terhadap peningkatan risiko terjadinya keputihan, khususnya yang
disebabkan oleh infeksi jamur.
Keputihan dapat bersifat normal (fisiologis) dan tidak normal (patologis). Dalam keadaan normal, cairan yang keluar
cenderung jernih atau sedikit kekuningan dan kental seperti lendir serta tidak disertai bau atau rasa gatal. Namun bila
cairan yang keluar disertai bau, rasa gatal, nyeri saat buang air kecil atau warnanya sudah kehijauan atau bercampur
darah, maka ini dapat dikategorikan tidak normal.
Keputihan seringkali dianggap sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu ketika
mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal, keputihan tidak normal karena
infeksi yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, selain dapat mengganggu kesehatan
ibu, juga dapat berpengaruh terhadap janin.
Baik wanita maupun ibu hamil yang mengalami keputihan yang tidak normal, jelas Dr. Ovi, segeralah memeriksakan diri
ke dokter agar dokter dapat melakukan pemeriksaan secara seksama untuk mencari tahu penyebab keputihan tersebut
dan setelah itu barulah dapat memberikan terapi yang sesuai.
Penyebab keputihan :
Penyebab keputihan dapat digolongkan pada dua golongan besar, yaitu fisiologis dan patologis. Pada keadaan
fisiologis, keputihan dapat terjadi pada saat hamil, sebelum dan sesudah haid, saat mendapat rangsang seksual, saat
banyak melakukan aktivitas fisik yang kesemuanya tidak menimbulkan keluhan tambahan seperti bau, gatal, dan
perubahan warna.
Sedangkan keputihan patologis disebabkan oleh infeksi mikroorganisma seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel
satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti iritasi akibat bahan
pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi.
Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual. Sementara infeksi
jamur Candida sp yang secara normal ada dalam saluran cerna dan vagina, dapat terjadi karena pertumbuhan yang
berlebihan akibat berbagai faktor, salah satunya adalah kehamilan yang menimbulkan kondisi terjadinya penurunan
imunitas tubuh dan juga vagina.
kandidiasis_vaginalisUmumnya penyebab keputihan tersering pada wanita hamil adalah infeksi jamur Candida sp.
Wanita hamil dapat terkena keputihan sejak awal kehamilan hingga trimester akhir menjelang persalinan. Namun pada
keputihan karena infeksi jamur, akan lebih berat terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan karena pada saat tersebut
kelembaban vagina paling tinggi.
Menurut Dr. Ovi, selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh
selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan
terjadinya keputihan pada janin. Namun bila saat persalinan masih terdapat infeksi, maka dampak keputihan yang terjadi
tergantung penyebabnya, dimana bayi akan terkontak dengan penyebab keputihan tersebut.
Misalnya, pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur).
Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur Candida sp dapat
meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada
bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri
Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan.
Pada keputihan yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi, tentunya infeksi yang berlanjut dan tergantung
penyebabnya, dapat mengganggu kesehatan ibu hamil. Misalnya bila terjadi infeksi Chlamydia pada kehamilan, dapat
terjadi pecahnya selaput ketuban sebelum masa persalinan. Hal ini berakibat terjadinya infeksi pada janin dan juga pada
ibu yang dapat menyebabkan infeksi berat hingga kematian.
saat bunda dalam masa kehamilan metabolisme tubuh meningkat, akibatnya beberapa hal bisa terjadi. seperti keluar lendir dari vagina. jika lendir tersebut tidak berbau dan tidak berwarna serta jumlahnya tidak banyak dan mengganggu maka hal itu masih dianggap normal. namun jika sebaliknya bahkan mengganggu aktifitas bunda perlu memeriksakan diri ke dokter agar tidak terkena infeksi jamur.
beberapa tips untuk mencegah terjadinya infeksi jamur :
1. gunakan pakaian yang mudah menyerap keringat seperti yang berbahan katun, dan segeralah ganti pakaian yang terkena keringat. pada saat hamil bunda akan lebih mudah berkeringat apalagi bila suhu di luar begitu panas. hal ini terjadi karena adanya peningkatan metabolisme tubuh.
2. arah bilas setelah buang air kecil yang baik adalah dari depan kebelakang, hal ini untuk mencegah masuknya bakteri atau jamur yang berasal dari anus.
3. menjaga agar daerah sekitar vagina tetap kering untuk mencegah tumbuhnya jamur. pastikan daerah sekitar vagina bunda benar-benar kering setelah buang air kecil maupun besar sebelum memakai celana dalam kembali.
4. jangan memakai celana yang masih basah agar daerah sekitar vagina tidak lembab.
5. jika keluhan masih muncul, dianjurkan untuk memeriksa kadar gula dalam darah.
Wanita hamil pun kerap mengalami keputihan selama masa kehamilannya.
Menurut Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta, seorang wanita
lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu
dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan
pada kondisi pencernaan. Semua ini berpengaruh terhadap peningkatan risiko terjadinya keputihan, khususnya yang
disebabkan oleh infeksi jamur.
Keputihan dapat bersifat normal (fisiologis) dan tidak normal (patologis). Dalam keadaan normal, cairan yang keluar
cenderung jernih atau sedikit kekuningan dan kental seperti lendir serta tidak disertai bau atau rasa gatal. Namun bila
cairan yang keluar disertai bau, rasa gatal, nyeri saat buang air kecil atau warnanya sudah kehijauan atau bercampur
darah, maka ini dapat dikategorikan tidak normal.
Keputihan seringkali dianggap sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu ketika
mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal, keputihan tidak normal karena
infeksi yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, selain dapat mengganggu kesehatan
ibu, juga dapat berpengaruh terhadap janin.
Baik wanita maupun ibu hamil yang mengalami keputihan yang tidak normal, jelas Dr. Ovi, segeralah memeriksakan diri
ke dokter agar dokter dapat melakukan pemeriksaan secara seksama untuk mencari tahu penyebab keputihan tersebut
dan setelah itu barulah dapat memberikan terapi yang sesuai.
Penyebab keputihan :
Penyebab keputihan dapat digolongkan pada dua golongan besar, yaitu fisiologis dan patologis. Pada keadaan
fisiologis, keputihan dapat terjadi pada saat hamil, sebelum dan sesudah haid, saat mendapat rangsang seksual, saat
banyak melakukan aktivitas fisik yang kesemuanya tidak menimbulkan keluhan tambahan seperti bau, gatal, dan
perubahan warna.
Sedangkan keputihan patologis disebabkan oleh infeksi mikroorganisma seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel
satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti iritasi akibat bahan
pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi.
Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual. Sementara infeksi
jamur Candida sp yang secara normal ada dalam saluran cerna dan vagina, dapat terjadi karena pertumbuhan yang
berlebihan akibat berbagai faktor, salah satunya adalah kehamilan yang menimbulkan kondisi terjadinya penurunan
imunitas tubuh dan juga vagina.
kandidiasis_vaginalisUmumnya penyebab keputihan tersering pada wanita hamil adalah infeksi jamur Candida sp.
Wanita hamil dapat terkena keputihan sejak awal kehamilan hingga trimester akhir menjelang persalinan. Namun pada
keputihan karena infeksi jamur, akan lebih berat terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan karena pada saat tersebut
kelembaban vagina paling tinggi.
Menurut Dr. Ovi, selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh
selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan
terjadinya keputihan pada janin. Namun bila saat persalinan masih terdapat infeksi, maka dampak keputihan yang terjadi
tergantung penyebabnya, dimana bayi akan terkontak dengan penyebab keputihan tersebut.
Misalnya, pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur).
Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur Candida sp dapat
meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada
bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri
Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan.
Pada keputihan yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi, tentunya infeksi yang berlanjut dan tergantung
penyebabnya, dapat mengganggu kesehatan ibu hamil. Misalnya bila terjadi infeksi Chlamydia pada kehamilan, dapat
terjadi pecahnya selaput ketuban sebelum masa persalinan. Hal ini berakibat terjadinya infeksi pada janin dan juga pada
ibu yang dapat menyebabkan infeksi berat hingga kematian.
Langganan:
Postingan (Atom)